Memotret realita yang ada, saya teringat dengan sebuah slogan yang mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menang, perjuangan untuk meraih impian.
Akan tetapi sejauh manakah perjuangan menggapai impian ini bisa menjadi kenyataan? Hanya kita sendiri yang tahu tentang realita hidup ini. Tatkala bahtera ini telah menyimpang dari arah halauan, tentu sebaik-baik manusia kala itu adalah yang mengingatkan kita menuju arah yang tepat. Akan tetapi, seperti itukah kita? Ketika kita salah langkah, maka orang terbaik bagi kita adalah yang membenarkan setiap tindakan kita yang salah. Bukan menasihati kita menuju jalan yang benar, akan tetapi justru membela kita kala kita melakukan kesalahan. Andai inilah yang terjadi dalam kancah perebutan singgahsana kepresidenan, tentu tempat duduk mereka telah dipenuhi setan-setan bertopeng manusia. Sehingga memang pantas dan benar bahwa menjadi presiden adalah sebuah jalan kehormatan meski harus mengorbankan berjuta-juta rakyat yang semakin menderita. (Hai rakyat terimalah nasibmu yang telah ditetapkan oleh pemimpinmu, jangan pernah berpaling darinya, karna hanya akan semakin membuat anda nyenyak untuk tidur. Biarkan para penguasa itu memperkosa ibu-ibu anda, istri-istri serta anak-anak perempuanmu yang paling tercinta. Biarkan mereka menikmatinya di depan mata anda, supaya anda puas merasa bersalah karena telah memilih para penghianat bangsa, yang telah anda anggap sebagai pahlawan negara.) Sunggu sebenarna saya malu utuk tetap ikut pemilu 2009, karena hanya akan memperparah keadaan bangsa
Sabtu, 27 September 2008
Dunia Gemerlap, Impian dan Hayalan
Diposting oleh
Alif Nur Rohman
di
08.02
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar